Teknik Menganyam serat pelepah sagu atau serat recca merupakan warisan kriya tekstil tradisional yang amat tersohor dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Songkok Recca atau Songkok To Bone adalah penutup kepala khas suku Bugis yang dahulu hanya boleh dikenakan oleh raja-raja dan bangsawan tinggi dalam upacara adat sakral. Ciri keunggulan utama dari kerajinan songkok ini terletak pada bahan bakunya yang menggunakan jalinan serat pelepah pohon sagu pilihan yang dianyam secara manual menggunakan ketrampilan tangan halus. Hasil anyaman serat sagu menghasilkan peci yang berstruktur kaku, ringan, bersirkulasi udara baik, serta memiliki ketahanan fisik yang sangat luar biasa.
Proses pembuatan diawali dengan memanen pelepah daun pohon sagu tua yang tumbuh di kawasan rawa daratan Bone. Pelepah sagu ditumbuk secara perlahan menggunakan pemukul kayu guna memisahkan bagian daging pelepah kaku dengan helai-helai serat bagian dalamnya yang kuat. Serat sagu halus tersebut kemudian direndam dalam air bersih selama beberapa hari guna membuang zat pati yang menempel, lalu dikeringkan di tempat teduh. Setelah kering, pengrajin memilah serat sagu berdasarkan tingkat kehalusan dan kekuatan serat, menyiapkan bahan baku berkualitas terbaik untuk siap dimasukkan ke dalam tahapan penganyaman songkok.
Penganyaman dilakukan menggunakan acuan cetakan kayu berbentuk kepala (songkok mold) untuk memastikan ukuran diameter dan bentuk peci yang simetris. Teknik Menganyam serat sagu ini dilakukan helai demi helai menggunakan bantuan jarum penyusut khusus dengan tingkat ketelitian mikro yang amat tinggi. Pengrajin menganyam serat sagu secara melingkar dari bagian puncak atas songkok hingga turun menuju dinding bagian bawah. Kerapatan lembaran anyaman menentukan tingkat kualitas akhir songkok Recca; semakin rapat dan halus helaian serat yang teranyam, maka nilai keindahan seni dan harga jual produk songkok akan semakin melambung tinggi.
Untuk menambahkan kesan kemewahan nan anggun, pengrajin mengombinasikan anyaman serat sagu berwarna alami cokelat tua dengan sulaman Benang Emas murni pada bagian dinding songkok. Benang emas disulam membentuk pola-pola geometris tradisional khas Bugis yang kaya akan simbolisme keagungan adat. Setelah seluruh struktur penutup kepala selesai dianyam, bagian tepi bawah dikunci dengan jahitan kain pelapis lembut agar tidak terasa gatal atau menggores kulit dahi saat dikenakan oleh pemakainya dalam jangka waktu pertunjukan adat yang lama.
Keagungan Songkok Recca khas Bone hingga kini terus terjaga eksistensinya dan menjadi souvenir identitas budaya paling dibanggakan dari Sulawesi Selatan. Melalui keahlian Teknik Menganyam yang diwariskan secara turun-temurun oleh para ibu pengrajin di desa-desa adat, warisan tradisi ini terhindar dari bahaya kepunahan teknologi zaman. Songkok Recca kini kerap digunakan oleh para pejabat negara, tokoh masyarakat, dan pengantin pria dalam acara-acara formal nasional. Pelestarian industri kriya tradisional ini terbukti sukses memperkuat ekonomi warga lokal serta melestarikan kebanggaan budaya bangsa.